Langsung ke konten utama

When Your Family is Your 'Haters'

Kamu ga pernah tau, kan... akan dilahirkan di keluarga yang seperti apa? Kamu juga ga tau, ketika kamu dilahirkan, akan jadi seperti apa kamu nantinya? Bahkan, apakah kamu orang baik atau bukan pun, tidak pernah ada yang tau. Kecuali Tuhan dan dirimu sendiri. Bisa jadi, orang lain menilai mu baik, saat kamu tahu, banyak kejahatan yang pernah kamu lakukan.

Semakin kamu menjalani harimu setelah dilahirkan, semakin kamu tau apa itu kehidupan. Waktu yang terus berlalu, membawamu mengelana, mengenali siapa dirimu dan seisi dunia. Keluarga, tetangga, teman, komunikasi, hingga perasaan.

Tapi, bagaimana jadinya jika masa pengenalan mu terganggu? Terhambat? Bahkan tersesat? Kamu mencari tau tentang apa itu keluarga, seperti apa keluarga di bumi yang pasti banyak jenisnya, lalu kamu merasa menemukan jawaban, dan ternyata ada banyak hal yang kamu lewatkan? Kembali sudah tak bisa, mustahil. Sedangkan terus melangkah maju pun bukan hal yang tepat.

Mungkin, akan banyak dari kalian yang akhirnya memilih maju, daripada hanya diam di tempat dengan kesalahan yang sama. Tapi langkah di depanmu semakin menampakkan diri, bahwa hanya ada jurang tebing di sana. Hal-hal yang telah kamu lewatkan, membawamu pada jalan penuh duri. Memberimu luka, dan membawamu semakin jauh menuju penguasa dari segala luka: kematian.

Belum lama ini, ah...sudah sebulan (?) atau dua bulan yang lalu, saat sebuah postingan di sosial media ramai dibicarakan. Banyak dukungan diberikan, tidak sedikit pula yang memberi hujatan. Postingan tersebut dibuat oleh seorang aktris, dan idol K-Pop mantan sebuah grup perempuan, AOA. Namanya Kwon Mina.

Saat itu, ia merasa telah banyak menerima hate, dan bully-an. Dari para anti-fans di sosial media, dan dari teman satu grupnya, yang juga merupakan ketua grup tersebut.

Tapi kamu tau? Aku cukup iri dengannya. Bukan. Bukan karena situasinya yang merasa depresi akan keadaan hidupnya. Tapi karena begitu banyak orang yang mendukung, dan menyayanginya. Tak terkecuali, keluarga, terutama ibunya.

Saat ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun gagal. Karena ada keluarga, dan orang yang sudah seperti keluarga, yang selalu ada di sisinya. Mereka menolong, memeluk, tanpa menghakimi, tanpa sikap semakin menyakiti.

Tentu kalian tau, keluarga adalah satu-satunya tempat untuk kembali. Saat kalian bahagia, saat kalian sedih. Bahkan saat kalian tersakiti dan tak berdaya, keluarga lah satu-satunya tempat yang akan menerima ketidak berdayaanmu, merawatmu yang sakit agar lekas sehat kembali.

Namun jika hal itu hanyalah angan. Kamu menerima cukup kebaikan dari orang-orang di luar sana, namun kamu terluka oleh keluargamu sendiri. Mereka selalu menghakimi setiap hal yang kamu lakukan sebagai kesalahan. Mereka membenci apapun yang kamu lakukan, dan bahkan membully-mu. Mengatakan semua kekurangan dirimu, membanding-bandingkanmu dengan orang lain di luar sana yang bahkan bukan bagian dari keluargamu. Saudaramu, bahkan pernah, memberimu label yang sangat rendah: babu. Sama sekali tidak menghormatimu.

Hal-hal itu, saat terjadi di dunia yang kerasa adalah hal yang biasa. Kamu diharuskan membangun mental mu bak kastel istana, kuat dan kokoh. Dan memang keluarga lah yang akan pertama kali mengajarkanmu hal itu. Tapi bukankah seharusnya tetap ada kasih sayang diantara keluarga? Sedangkan kamu merasa hanya kebencian yang terasa.

Mereka tidak pernah menanyakan pendapatmu, tidak pernah menanyakan hal-hal kecil yang sudah sewajarnya ditanyakan keluarga, mereka juga tidak pernah memberi tahumu hal yang seharusnya kamu ketahui sebagai keluarga. Mereka jelas mengucilkanmu. Mereka menuntutmu melakukan seluruh pekerjaan rumah, dan akan menggila saat kamu tidak melakukannya.

Kamu secara fisik merasa fine, baik-baik saja, bahkan kamu akan melakukan apapun yang kamu bisa demi bisa diterima, sekalipun itu akan membunuhmu. Namun yang terjadi hanyalah pandangan yang semakin merendahkan. Fisikmu sama sekali tidak terasa lelah, sakit sudah diabaikan, namun mentalmu, dan hatimu setiap hari terasa dicabik-cabik, bahkan kamu pun tidak yakin apakah mental dan hatimu masih ada. Rasanya kamu ingin mengenyahkan semuanya, harga diri dan perasaanmu, agar kamu tidak perlu merasa direndahkan dan tidak disayangi sama sekali.

Lalu kamu tersadar, bahwa kamu bukan Sulli atau Jonghyun. Kamu tidak dikenal orang lain, dan saat kamu kehilangan mental dan hatimu, atau bahkan nyawamu, tidak akan ada orang yang mengambil pelajaran dari apa yang sudah kamu lalui. Dan akhirnya, muncul korban-korban baru yang senasib denganmu. Itulah sebabnya kamu menahannya hingga hari ini. Kamu tidak mau menjadi korban-korban yang tidak berarti itu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika "Lupa" pada Tugas dan Kewajiban

Lupa Banyak hal yang mudah sekali dilupakan. Entah itu hal yang memang tergusur oleh waktu karena sudah terlalu lama, maupun hal yang bisa saja baru terjadi beberapa detik yang lalu. Setiap manusia pasti pernah mengalami yang namanya "lupa". Pun aku. Refleksi diri dari "lupa" membuatku semakin merasa bahwa banyak hal yang mudah ku sepelekan . Merasa menjadi manusia yang selalu mengingat segalanya, tanpa menyadari bahwa hakikatnya aku akan lupa juga. Dan begitulah. Bermula dari "lupa", aku justru akan selalu mengingatnya sebagai bagian dari refleksi diri. Empat bulan yang lalu, tepatnya pada awal bulan Februari 2020. Saat itu perkuliahan semester gasal baru saja dimulai. Dosen yang satu ini kalo kata anak milenial "gercep". Seabrek tugas untuk UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester –ini HARUS banget ku tulis karena kemarin adikku bilang UAS adalah Ujian Akhir Sekolah) sudah diberikan. Walaupun baru sebatas garis besarnya saja

Aku yang Baper atau Harus Profesional?

Bismillah Setelah sekian purnama absen dari kegiatan per-tulisan, akhirnya memberanikan diri mengambil langkah ini lagi. Meskipun awal yang sulit menjadi rintangan, karena sudah lupa bagaimana cara memulai tulisan, lupa bagaimana menyusun kata yang baik dan benar, lupa pertimbangan alur apa yang hendak dimulai. Dan inilah jadinya. Mengalir apa adanya, menjadikan lupa-lupa itu sebagai langkah demi langkah, menyusun setiap kata menghasilkan kalimat. Dan menyusun setiap kalimat menjadi paragraph. Juga menyusun setiap paragraph menjadi cerita. Bermodalkan cahaya layar laptop yang menerangi tuts keyboard, semoga bisa terus dan terus belajar apa itu menulis, bagaimana menulis yang baik, dan konsisten untuk mengembangkan skill menulis supaya terus lebih baik lagi. Akhir kata, semoga yang sudah meluangkan waktunya membaca kisah ini, dapat menikmati tulisan yang ada. Syukur-syukur bisa mengambil dan memetik satu-dua hikmah. Aku yang Baper atau Harus Profesional? Lagi, itu menjad

Obrolan Seputar Keraguan dan Covid-19

Bismillah … Beberapa hari lalu, terjadi obrolan dengan (calon) dokter, mahasiswa fakultas kedokteran sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang telah wisuda sebagai Sarjana Kedokteran (S.Ked) dan tengah koas sebelum akhirnya menjalani Sumpah Dokter . Sebut saja namanya Yuri. Karena kondisi lockdown, ia dan teman-teman koas nya harus koas online dari rumah masing-masing. Namun tahun ini adalah tahun kedua sekaligus tahun terakhirnya sebagai koas. Ada dilema dalam diri Yuri sebagai koas tahun kedua. Sudah tidak banyak lagi materi yang bisa ia (dan teman-teman seangkatannya) lakukan dengan online. Meski para dosen banyak memberi tugas untuk ‘sisa-sia’ materi yang bisa dibawakan online, namun tetap saja surat pemberitahuan untuk koas praktek (bertemu pasien langsung) pun sampai secara online. Dalam pemberitahuan itu dituliskan bahwa mahasiswa/i diminta untuk datang ke kampus dan bersedia melaksanakan koasnya di rumah sakit. Juga a