Langsung ke konten utama

Ketika "Lupa" pada Tugas dan Kewajiban

Lupa


Banyak hal yang mudah sekali dilupakan. Entah itu hal yang memang tergusur oleh waktu karena sudah terlalu lama, maupun hal yang bisa saja baru terjadi beberapa detik yang lalu. Setiap manusia pasti pernah mengalami yang namanya "lupa".


Pun aku. Refleksi diri dari "lupa" membuatku semakin merasa bahwa banyak hal yang mudah ku sepelekan. Merasa menjadi manusia yang selalu mengingat segalanya, tanpa menyadari bahwa hakikatnya aku akan lupa juga.


Dan begitulah. Bermula dari "lupa", aku justru akan selalu mengingatnya sebagai bagian dari refleksi diri.


Empat bulan yang lalu, tepatnya pada awal bulan Februari 2020. Saat itu perkuliahan semester gasal baru saja dimulai. Dosen yang satu ini kalo kata anak milenial "gercep". Seabrek tugas untuk UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester –ini HARUS banget ku tulis karena kemarin adikku bilang UAS adalah Ujian Akhir Sekolah) sudah diberikan. Walaupun baru sebatas garis besarnya saja.


Sekitar pertemuan ketiga, tugas diberikan secara real, fix, tidak dapat diganggu gugat. Tugas individu dan kelompok dibriefing sehari itu. Pembagian kelompok, ketentuan penilaian, dan semua hal dari A sampai Z.
Santai. Satu kata yang aku sematkan kala itu. Waktu pengumpulan tugas masih lama, kisaran 2 sampai 4 bulan lagi. Tidak perlu terburu-buru, pikirku.


Namun bibi Corona datang tiba-tiba. Datang tanpa diundang, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Menyebar dengan cepat, begitu abstrak, dan tak terkendali dalam waktu singkat. Semua panik. Kampus diliburkan. Mahasiswa pun akhirnya melakukan perkuliahan dengan sistem online.


Tata usaha kampus sibuk mengurus hal yang berkaitan dengan perkuliahan menggunakan sistem online. Tidak mudah. Dan sempat tidak memiliki kejelasan (waktu itu). Seingga, hari pertama kuliah online, aku absen.


Pada saat itu, masih belum ada satupun yang membahas tentang tugas. Oh lebih tepatnya kelanjutan tugas. Tugas kelompok yang memang waktu pengumpulannya menjelang UAS. Semua orang jadi santai dan tidak terlalu memperdulikan.


Namun aku bersyukur diberi beberapa teman kelompok yang biasa nongkrong bareng❤️ Sebelum Corona menyerang, beberapa kali, aku dan dua teman kelompokku sudah sempat ke perpustakaan kampus untuk mencari materi referensi. Alhamdulillah buku-buku di perpustakaan lumayan lengkap walau bukunya sangat tebal dan bahan isiannya juga sangat panjang.


Dan bahan-bahan itu cukup menunjang kelanjutan tugas kelompokku. Meskipun, tugas kelompok baru benar-benar dikerjakan pada akhir April, saat UTS telah selesai dilaksanakan.
Disinilah peran "lupa" mulai beraksi.


Saat itu aku cukup ketagihan main laptop, ngetik-ngetik ga jelas. Sampai aku bahkan memutuskan untuk kembali menulis di #1M1C (setelah 3 tahun hiatus, terakhir nge-blog tahun 2017). Segitu hectic nya aku sama nulis. Akupun cukup fokus untuk mengerjakan tugas kelompokku.


Namun karena begitu antusias, akhirnya tibalah saat aku akhirnya muak di depan layar segi empat laptopku. Aku merasa harus menjauhi laptop beberapa waktu, hingga perasaan muak ini reda. Ketika aku akhirnya memutuskan untuk menjauhi laptop, tanpa sadar, aku telah menjauhinya selama hampir satu bulan.


Memang beberapa kali aku sempat untuk membuka laptop, menyempatkan mempublish tulisanku di blog. Meski pada akhirnya, aku pun bolos setoran beberapa kali.


Lalu, peran "lupa" menguasaiku dan teman satu kelompokku. Hari pertama masuk kuliah setelah libur Ramadhan dan IdulFitri itulah, jadwal hari mata kuliah tugas kelompok yang terabaikan. Grup tugas yang tadinya sepi, mendadak ramai –oleh orang-orang yang sadar diri–.


Dan aku, dengan percaya dirinya menyerahkan file tugas yang sudah ku ketik satu bulan yang lalu. Dan betapa terkejutnya aku, karena file ketikan itu ternyata belum selesaiใ… ~ใ… . Juga perasaan malu, karena "lupa" akan tugas yang belum selesai tapi ku anggap sudah selesai.
Entah kenapa.


Aku pun segera menyelesaikan kewajibanku. Dan aku sempat terharus saat salah satu yang biasanya paling diam dan ga pernah muncul di grup, hari itu dia menunjukkan diri bahwa ia ada. Bahwa ia juga bagian dari kelompok, dan untuk mendapatkan nilai, tentu ia harus berkontribusi untuk kelompok.


Namun kejutan lain tiba-tiba hadir dari salah seorang anggota kelompokku yang lain. Yang tidak ingin ku anggap, karena baru muncul hari itu, saat aku memutuskan untuk membagi tugas pada anggota kelompok yang–baru mulai– sadar diri ketika waktu pengumpulan tugas sudah mepet. Sebut saja namanya Claudia.

Setelah merampungkan file ketik 13 halaman-ku, aku segera mengirimnya ke grup. Untuk dibaca anggota yang lain, dan untuk diedit oleh Claudia. File itu sebenarnya hanya butuh beberapa sentuhan akhir seperti edit font, ukuran font, atau buat cover. Namun dia dengan mudahnya bilang "Lain kali jangan dadakan ya kasih tugasnya." Pengen nangis banget waktu itu.


Bersyukur emosi hanya sempat menguasaiku sebentar. Aku langsung mematikan paket data dan pergi sholat Dzuhur. Selama wudhu aku tertegun.


Wajarnya, aku akan menuntut permintaan maaf. Namun sebelum itu, aku seharusnya mencontohkan bagaimana caranya meminta maaf. Saat itu, bukan hanya aku yang kecewa. Dia juga. Walaupun entah kenapa, aku selalu ingin menyalahkannya karena kurang berbaur dan aktif di grup tugas.


Selesai sholat, aku membuka HP ku. Tanpa menyalakan paket data, aku mulai merangkai kalimat permintaan maaf. Bagaimanapun, jika melihat dari sisi Claudia, dia merasa kalau aku salah. Seandainya aku menyelesaikan tugas akhir April atau awal Mei yang lalu, maka mungkin hari ini tugas sudah selesai di edit oleh Claudia. Bukannya malah baru mau diedit.


Tugasku saja 13 halaman sendiri, belum lagi tambahan dari temanku yang lain yang membantu untuk mengetik. Mungkin sekitar 10 halaman. Berarti ada 23 halaman secara keseluruhan. Bukan hal yang mudah juga untuk mengedit itu, kan?


Dan begitu paket data ku nyalakan, beberapa chat masuk di grup tugas. Salah seorang temanku–mari kita panggil namanya Naila– ๐Ÿ˜‚, mengatakan bahwa ini adalah salah kita semua. Yang terlalu fokus dan mementingkan urusan pribadi masing-masing. Terutama di tengah pandemi Corona.


Tapi tetap permintaan maaf ku kirim. Harapan ku semoga ia mau memaafkan. Karena aku akan mulai memaafkannya untuk menenangkan hatiku meski ia tidak meminta maaf karena merasa tidak bersalah. Karena aku juga yang awalnya men-judge bahwa Claudia salah, dan aku harus memaafkan nya, kan?

Komentar

  1. biar gak lupa bikin jadwal atau di list kak, hehe. semangat menulis ya kak. oia, aku mau follow blog kakak tapi gak ada tombolnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kaa. ๐Ÿ˜† Belum bisa munculin tombolnya ๐Ÿ˜… masih harus otak-atik lagii... Heheh

      Hapus
  2. Wuah.. aku sering mikir sebenarnya apa yang sering kamu tulis, setiap storywa yang kamu bagiin selalu soal menulis, ga disangka ternyata blog kamu menarik juga.. kesini toh tulisan-tulisan keren kamu bermuara,,


    Prihal lupa, aku juga sama sepertinya banyak hal yang aku sepelekan, sejauh aku ingin terlupa semakin dalam aku mengingat, mungkin menyepelekan juga bukan satu-satunya jawaban.
    aku bicara soal rasa ra.. hehehe
    Ternyata 'lupa' juga nikmat dari Allah ya..
    Aku jadi ingin lupa, semua tentang dunianya. Krna lagi lagi semakin aku coba terlupa aku semakin dalam mengingat

    BalasHapus
  3. Saya juga pernah mengalami hal semacam itu. Wajar sih kalau lupa, karena udah lama juga dan ada banyak hal yang harus diurusi. Meminta maaf aja duluan nggak apa-apa๐Ÿ˜, biar hati adem.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener bgt, tp kadang kenyataannya ego lebih besar yaa. jd utk minta maaf lebih dulu butuh waktu :")

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Obrolan Seputar Keraguan dan Covid-19

Bismillah

Beberapa hari lalu, terjadi obrolan dengan (calon) dokter, mahasiswa fakultas kedokteran sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang telah wisuda sebagai Sarjana Kedokteran (S.Ked) dan tengah koas sebelum akhirnya menjalani Sumpah Dokter. Sebut saja namanya Yuri. Karena kondisi lockdown, ia dan teman-teman koas nya harus koas online dari rumah masing-masing. Namuntahun ini adalah tahun kedua sekaligus tahun terakhirnya sebagai koas.
Ada dilema dalam diri Yuri sebagai koas tahun kedua. Sudah tidak banyak lagi materi yang bisa ia (dan teman-teman seangkatannya) lakukan dengan online. Meski para dosen banyak memberi tugas untuk ‘sisa-sia’ materi yang bisa dibawakan online, namun tetap saja surat pemberitahuan untuk koas praktek (bertemu pasien langsung) pun sampai secara online.
Dalam pemberitahuan itu dituliskan bahwa mahasiswa/i diminta untuk datang ke kampus dan bersedia melaksanakan koasnya di rumah sakit. Juga agar mahasiswa/i bersedia …

Aku yang Baper atau Harus Profesional?

Bismillah
Setelah sekian purnama absen dari kegiatan per-tulisan, akhirnya memberanikan diri mengambil langkah ini lagi. Meskipun awal yang sulit menjadi rintangan, karena sudah lupa bagaimana cara memulai tulisan, lupa bagaimana menyusun kata yang baik dan benar, lupa pertimbangan alur apa yang hendak dimulai. Dan inilah jadinya. Mengalir apa adanya, menjadikan lupa-lupa itu sebagai langkah demi langkah, menyusun setiap kata menghasilkan kalimat. Dan menyusun setiap kalimat menjadi paragraph. Juga menyusun setiap paragraph menjadi cerita. Bermodalkan cahaya layar laptop yang menerangi tuts keyboard, semoga bisa terus dan terus belajar apa itu menulis, bagaimana menulis yang baik, dan konsisten untuk mengembangkan skill menulis supaya terus lebih baik lagi. Akhir kata, semoga yang sudah meluangkan waktunya membaca kisah ini, dapat menikmati tulisan yang ada. Syukur-syukur bisa mengambil dan memetik satu-dua hikmah.
Aku yang Baper atau Harus Profesional?
Lagi, itu menjadi tamparan keras b…