Langsung ke konten utama

Mencoba Transportasi Umum di Masa Pandemi

Yup! Akhirnya...! Hari ini adalah hari kebebasanku. Yeay!!! πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰

Sssttt... Tapi bukan sembarang kebebasan ya, guys. Tetap ada protokol kesehatan yang aku dan kalian semua harus ikuti. Salah satunya adalah penggunaan masker. Tapi sebenarnya kebebasan apa sih yang aku maksud?

Jadi, hari ini adalah hari pertama aku keluar rumah.?

What?!! Pertama kali?! Seriussss???!!! 

Benar sekali, guys. Jadi ini pertama kalinya aku keluar rumah dan berpergian cukup jauh —menurutku— setelah lebih dari 5 bulan terus berada di rumah.


Sebenarnya, bahkan selama PSBB hingga masa PSBB transisi, kegiatan ku keluar rumah sangat bisa dihitung jari. Karena memang kegiatan keluar rumah —untuk jarak yang dekat— hanya sekedar membeli kebutuhan pribadi seperti belanja sehari-hari. Itupun terkadang sekali keluar bisa belanja untuk persediaan beberapa hari kedepan (juga kegiatan belanja ini gantian antara aku, ayahku dan adik-adikku).

So, this is it!!!.

Bisa bayangin ga? Rasanya keluar rumah, at the first time? Hehe Aku bersyukur sekali, karena aku memiliki alasan kuat kenapa harus pergi keluar rumah, bahkan keluar kota (hey, Jabodetabek tetap bisa disebut luar kota, kan? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚). Tapi, aku minta maaf banget karena gak bisa bilang alasan apa itu. Yang pasti, tetap selalu ikuti protokol kesehatan dari pemerintah ya!!!

Ketika mau keluar rumah, aku jujur, gugup luar biasa. Dan ini beberapa hal yang aku lakukan sebelum pergi keluar rumah.

Search GoogleπŸ’‘



Ini penting banget sih, menurutku. Kalau bisa, lihat berita terbaru tentang jalanan dan tempat yang akan kita datangi. Karena aku —kebetulan— harus ke ibu kota, jadi aku cari berita soal jalanan di Jakarta. Termasuk transportasi umum yang beroperasi di sana.

Kenapa sih harus update sama berita terbaru di tempat tujuan kita? Untuk memudahkan kita, dong. Supaya tidak tersesat di jalan, tidak mendumel-dumel saat ternyata kita harus memutar arah sebab tidak adanya transportasi umum yang bisa digunakan, atau saat harus menggunakan transportasi online yang harganya menembus langit, saking tingginya. (Mahal banget cuy! πŸ˜†)

Lihat Akun Social Media Resmi

Akun  social media resmi siapa yang harus dilihat, ka? Artis Korea yang sudah verified alias dapat centang biru?

Ohhh... Tentu saja bukan, Malih. πŸ˜…πŸ˜‚

Jadi, saat aku melakukan search google, entah kenapa keyword yang aku masukkan itu memunculkan beberapa berita lama. Berita tahun 2018 sampai 2019. Berita terbaru hanya mentok sampai dibulan Januari atau Maret 2020, dimana Covid-19 belum menyebar di Indonesia.

Tentu saja alternatif lain yang bisa dilakukan adalah pergi ke akun social media resminya. Misal untuk Jakarta, ada akun Instagram resmi @commuterline dan @PT_Transjakarta. Di sana infonya valid dan lengkap banget. Mereka juga selalu berusaha untuk memberikan update terbaru terkait pelayanan mereka.

So far, selain di Instagram, kalian bisa juga cek akun Twitter resminya. Serius, di Twitter, mereka responsif sekali terhadap pertanyaan kita.

Seperti pertanyaan ku tentang jam operasional Transjakarta atau Tijey (seharusnya Tije, kalo versi Indo wkwk).

Jadi ceritanya, aku lihat di akun Instagram resmi @PT_Transjakarta, disebutkan jam operasional Tijey antara jam 05.00 — 22.00 WIB pada hari kerja. Ternyata itu hanya berlaku untuk busway koridor utama yaitu koridor 1 (rute Blok M-Kota) hingga koridor 13(rute Ciledug-Blok M).


*Ini catatan penting*

Jadi untuk rute yang tidak memiliki "koridor khusus", jam operasional pada hari kerja hanya di pagi hari antara jam 05.30—09.00 WIB dan di sore hari dari jam 15.00—20.30 WIB.

Nah, berbeda jauh kanπŸ˜†.

Kebetulan perjalananku kali ini menggunakan 2 transportasi umum; KRL dan Tijey. Nah, aku pun gak lupa cek akun Commuter Line Jabodetabek. Kaget banget pas lihat ketentuan harus pakai face shield. Sempat mikir untuk beli di pinggiran jalan tapi bablas gitu aja sampai stasiun.

Ternyata pas dicek lagi, itu lebih ke arahan. Kalau BISA....usahakan pakai face shield. Walaupun masker juga sudah cukup.
πŸ˜„

Nah, gimana guys? Itu tadi beberapa tips dari aku terkait hal-hal yang perlu diperhatikan saat hendak keluar rumah. Pokoknya selalu ingat untuk menjaga protokol kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah. Jaga kesehatan ya semuanya!!


Komentar

  1. Haruskah aku ucapkan selamat karena akhirnya bisa keluar rumah setelah 5 bulan? πŸ˜† Selamat ya! Setidaknya bisa refreshing sejenak hihihi 😍

    Btw, terima kasih atas informasinya! Karena aku juga udah lama nggak berpergian apalagi naik kendaraan umum jadi kurang tahu update mengenai jam operasional kendaraan umum di Jabodetabek πŸ˜‚
    Setelah baca artikel ini, aku jadi tahu ternyata TJ-pun masih dibatasi ya jam operasionalnya. Penting banget nih buat tahu tentang hal ini, barangkali memang terpaksa harus pergi naik kendaraan umum, jadi udah tahu deh πŸ˜†

    Tetap jaga kesehatan selalu ya kak ✨

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih!!!!✨πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰ Dan maaf baru sempat balasπŸ™πŸ»πŸ™πŸ» udah 5x bolos setoran jadi ga ngeh ada notifikasi komentar baruπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Jaga kesehatan juga ya kak❤️ Dan Salam kenalπŸ€—

      Hapus
  2. Akhirnyaa bisa jalan2 juga yaa kak keluar haha, aku pribadi sih belum pernah pake transportasi umum lagi sejak keluar. Terakhir kali bepergian pun pake travel aja yg memang dibatasin secara ketat, setelahnya dijemput. Itupun pengap banget sih harus pake masker selama 4 jam, tapi ya mau gimana lagi, kondisi sekarang aja yg positifnya semakin bertambah pesat😭 Stay safe ya mba! Oh iya, anyway salam kenal mba!πŸ‘πŸ»πŸ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa akhirnyaaaaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ sampai sekarang pun belum sempat keluar lagi, karena emg kasusnya jadi separah itu😭😭😭 apalagi mulai diberlakukan PSBB lagi yaaa...
      Stay safe juga mba❤️❤️πŸ€—

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika "Lupa" pada Tugas dan Kewajiban

Lupa
Banyak hal yang mudah sekali dilupakan. Entah itu hal yang memang tergusur oleh waktu karena sudah terlalu lama, maupun hal yang bisa saja baru terjadi beberapa detik yang lalu. Setiap manusia pasti pernah mengalami yang namanya "lupa".
Pun aku. Refleksi diri dari "lupa" membuatku semakin merasa bahwa banyak hal yang mudah ku sepelekan. Merasa menjadi manusia yang selalu mengingat segalanya, tanpa menyadari bahwa hakikatnya aku akan lupa juga.
Dan begitulah. Bermula dari "lupa", aku justru akan selalu mengingatnya sebagai bagian dari refleksi diri.
Empat bulan yang lalu, tepatnya pada awal bulan Februari 2020. Saat itu perkuliahan semester gasal baru saja dimulai. Dosen yang satu ini kalo kata anak milenial "gercep". Seabrek tugas untuk UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester –ini HARUS banget ku tulis karena kemarin adikku bilang UAS adalah Ujian Akhir Sekolah) sudah diberikan. Walaupun baru sebatas garis besarnya saja.
Se…

Obrolan Seputar Keraguan dan Covid-19

Bismillah

Beberapa hari lalu, terjadi obrolan dengan (calon) dokter, mahasiswa fakultas kedokteran sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Mahasiswa tersebut adalah mahasiswa yang telah wisuda sebagai Sarjana Kedokteran (S.Ked) dan tengah koas sebelum akhirnya menjalani Sumpah Dokter. Sebut saja namanya Yuri. Karena kondisi lockdown, ia dan teman-teman koas nya harus koas online dari rumah masing-masing. Namuntahun ini adalah tahun kedua sekaligus tahun terakhirnya sebagai koas.
Ada dilema dalam diri Yuri sebagai koas tahun kedua. Sudah tidak banyak lagi materi yang bisa ia (dan teman-teman seangkatannya) lakukan dengan online. Meski para dosen banyak memberi tugas untuk ‘sisa-sia’ materi yang bisa dibawakan online, namun tetap saja surat pemberitahuan untuk koas praktek (bertemu pasien langsung) pun sampai secara online.
Dalam pemberitahuan itu dituliskan bahwa mahasiswa/i diminta untuk datang ke kampus dan bersedia melaksanakan koasnya di rumah sakit. Juga agar mahasiswa/i bersedia …

Aku yang Baper atau Harus Profesional?

Bismillah
Setelah sekian purnama absen dari kegiatan per-tulisan, akhirnya memberanikan diri mengambil langkah ini lagi. Meskipun awal yang sulit menjadi rintangan, karena sudah lupa bagaimana cara memulai tulisan, lupa bagaimana menyusun kata yang baik dan benar, lupa pertimbangan alur apa yang hendak dimulai. Dan inilah jadinya. Mengalir apa adanya, menjadikan lupa-lupa itu sebagai langkah demi langkah, menyusun setiap kata menghasilkan kalimat. Dan menyusun setiap kalimat menjadi paragraph. Juga menyusun setiap paragraph menjadi cerita. Bermodalkan cahaya layar laptop yang menerangi tuts keyboard, semoga bisa terus dan terus belajar apa itu menulis, bagaimana menulis yang baik, dan konsisten untuk mengembangkan skill menulis supaya terus lebih baik lagi. Akhir kata, semoga yang sudah meluangkan waktunya membaca kisah ini, dapat menikmati tulisan yang ada. Syukur-syukur bisa mengambil dan memetik satu-dua hikmah.
Aku yang Baper atau Harus Profesional?
Lagi, itu menjadi tamparan keras b…